23/06/12

relationship-2

satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 11 Juni 2011, saya membeli buku ini, 'When God writes your Love Story' karangan Eric-Leslie Ludy. Saya membaca beberapa bab dan kemudian buku tersebut teronggok di rak buku saya, gara2 ada buku lain yang (saat itu) lebih menarik untuk dibaca. Dua minggu yang lalu, saya menyelesaikan membacanya. Seperti biasa, banyak kebenaran2 baru yang saya temukan dan pastinya banyak yang (eheem) 'menampar' saya. Tau gitu saya baca dari dulu2, haha..

menyambung tulisan saya di artikel sebelumnya, artikel ini masih berbicara mengenai 'relationship'. Di artikel lalu, saya sedikit menyinggung tentang yang namanya 'kekudusan'. Kali ini, saya mau sharing tentang 'kekudusan' yang dibahas di buku ini. Sebelumnya, saya mau menyampaikan compliment dulu untuk mereka, 'Eric-Leslie bener2 keren terlebih Allah yang telah menulis cerita cinta mereka!' 

di dalam salah satu bab yang ditulis Leslie, dia mengutip Amsal 31:12 "Ia [istri yang berkarakter saleh] berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.
jika saya boleh meminjam kata2 uncle Barney Stinson, setelah membaca itu saya akan berkata, 'wait for it'? (lol) sepanjang hidupnya??? adakah seorang perempuan yang telah menikah sepanjang umurnya? 'SNAP!' 
dia melanjutkan, 
'Apakah ayat itu berarti ia berusaha  berbuat baik kepada suaminya... bahkan sebelum ia bertemu suaminya?' Aku merasakan sebuah sentakan halus di dalam hatiku. Dan entah bagaiman, aku tahu bahwa inilah yang Allah inginkan bagiku. Memberikan yang terbaik bagi calon suamiku-mulai saat ini juga.
saya tertegun membaca paragraf tersebut, wow! setiap kata dalam firmanNya mengandung makna yang dalam. dalam hati saya bertanya, memang bagaimana caranya?? dan Dia benar2 luar biasa, paragraph berikutnya menjawab pertanyaan saya, langsung (sehabis saya tertegun).
Bagaimana aku dapat mencintai seseorang yang belum pernah kutemui? Aku membantah dalam benakku. Maksudku, aku mempertahankan komitmen untuk menjaga kesucian bagi calon suamiku. Lalu, apa lagi yang mungkin dapat kuperbuat untuknya?
Sentakan halus itu terus berlanjut, pada akhirnya memaksaku untuk memeriksa cara hidupku. Bagaimana pendekatanku selama ini terhadap suatu hubungan? Setiap kali aku terlibat dalam hubungan dengan seseorang, aku mencurahkan hati, emosi, kasih sayang, waktu, dan seluruh perhatianku untuk orang itu. Belum lagi fakta bahwa meski secara teknis aku masih perawan, aku tidak lagi menjaga diriku suci secara fisik. Aku terus mengompromikan standarku
kalimat ... memaksaku untuk memeriksa cara hidupku, yah, hal tersebut juga memaksa saya untuk memeriksa cara hidupku. cukup lama saya berpikir dan merenung, memang iya, saya belum pernah benar2 mempercayakan hati saya kepada seseorang, tapi ya, saya pernah 'hampir' berpikiran untuk memberikan hati saya pada seseorang secara emosi. Tapi puji Tuhan, Dia tunjukkan kasihNya, dengan cara menunjukkan beberapa hal/perilaku dari mr.x yang membuat saya berpikir beberapa kali tentang dirinya dan perasaan saya pada dirinya. Saya pernah mengalami emotional dependency gara2 mr.x dan saya enggan untuk merasakannya lagi, cukup 'saat itu' saja. hehe..g enak banget soalnya, hehe :p
saya baru sadar, (it's like SNAP SNAP and SNAP! ringin' in my head) bahwa kesucian (kekudusan) lebih dari sekedar keperawanan kita secara fisik; Leslie mengatakan bahwa, kesucian (yang adalah karunia besar) mencakup segala hal yang membuat kita sebagaimana adanya diri kita, secara emosional - sifat dasar feminim, kepekaan, kerapuhan, hasrat kita untuk memberikan diri kita sepenuhnya kepada satu laki-laki-adalah bagian dari karunia itu. Kesucian adalah harta karun yang berharga.

Kesucian juga berbicara tentang hati-emosi kita. Ketika saya mengalami emotional dependency tersebut hati saya patah (kalau bahasa kerennya patah hati), ringsek, rusak, atau apalah. saya ceroboh. well, ketika saya pulih dari emotional dependency pun, saya belum tau tentang kesucian emosi. baru ketika membaca buku ini, saya tau betapa pentingnya sebuah kesucian luar-dalam kita. Allah menyukai kesucian.
Tadinya saya berpikir hal itu wajar, patah hati (dalam pacaran), dan lain2, sepertin kebanyakan orang lain berpikir. tapi dalam bukunya, Leslie berkata 'Padahal, tak ada yang wajar dalam hal itu! Allah tidak berencana agar kita mengalami rasa sakit tersebut.' WOW!! saya dan kalian (terutama wanita) benar2 harus berhati-hati menjaga kesucian luar dalam kita, karena emosi kita yang sering memimpin. Bukan berarti kita harus selalu sempurna, melainkan bahwa kita menuju arah yang benar... di jalan kesucian yang tanpa kompromi, bercahaya, dan penuh sukacita dalam bentuknya yang paling sejati.

here it goes..Lesli said..
Bagaimana perasaan calon suamimu nantinya, sepertinya hatiku bertanya, jika ia bisa melihat bahwa kamu sedang memberikan dirimu seluruhnya pada hubungan-hubungan tersebut? Jika ia bisa mengamatimu sedang memberikan hati, emosi, dan kesucian fisikmu dengan cuma-cuma -- harta karun berharga miliknya?
Hatiku terasa pedih. Saat itu juga aku menyadari dengan sangat jelas bahwa aku belum mencintai calon suamiku melalui cara hidupku. Aku sama sekali tidak memikirkannya! (*saya pun juga tidak penah kepikirian sebelum membaca ini x___x) Aku malah begitu sibuk memenuhi hasrat sesaatku. Kesedihan meliputiku saat aku melihat diriku telah memberika hartanya, satu demi satu, kepada setiap laki-laki yang kukencani.
"Ya Tuhan, aku ingin menghormati-Mu dan calon suamiku melalui cara hidupku," doaku hari itu, "dan aku membuat komitmen hari ini untuk mencintainya dan memberikan yang terbaiknya baginya mulai saat ini dan seterusnya" (*ketika membaca itu, entah mengapa saya benar2 terharu dan jujur sedikit berkaca-kaca, I mean it's like wow! Leslie benar2 mengenal Tuhan, Leslie tau maunya Tuhan. dan kenapa saya juga tidak melakukan demikian? Eric dan Leslie sangat menginspirasi saya!)
Kehidupan cintaku pun berubah. Walaupun aku belum mengenal Eric (suami Leslie), aku mulai mengasihi Eric saat itu juga- benar-benar mengasihi calon suamiku "sepanjang umurku". Ini tidak mudah. Kadang kala menyakitkan. Dan tentu saja, banyak sekali masa ketika keegoisan lama berusaha menyusup kembali. Namun, dengan pertolongan Allah, aku mulai meletakkan fondasi bagi hubungan yang abadi karena aku bersedia untuk mulai mencintai calon suamiku dengan cinta yang penuh pengorbanan, cinta yang tidak egois, cinta yang abadi..cinta tanpa syarat (*manis sekali dan indah sekali!)
muncul pertanyaan lagi dalam diri saya, 'tapi calon saya kelak apakah juga melakukan hal yang sama? kalau tidak kenapa saya harus capek2? nggak adil donk? percuma'. Beberapa hal kemudian, Dia menjawab saya lewat tulisan Eric (yang ternyata Eric juga menanyakannya).

"Lebih bahagia jika kita memberi, Eric, daripada menerima" (lihat Kis 20:35) "glekkk"

saya heran, setiap pertanyaan yang muncul dari dalam hati saya, langsung dijawab (lagi). Tuhan tidak pernah kalah dalam berdebat, saya makin kagum denganNya! waktu itu saya bertanya, lantas bagaimana jika tidak pernah ada pernikahan? dalam babnya, Eric menjawab:
Bahkan jika kita tidak pernah menikah, apa pun yang kita lakukan untuk menjaga hati, menyaring pikiran, dan menyayangi calon pasangan kita melalui cara hidup kita, tidak akan sia-sia. Kita melakukan semua itu bukan hanya untuk pernikahan kita kelak di bumi ini, melainkan juga sebuah investasi untuk pernikahan kita yang mulia kelak di dalam surga bersama Yesus.
satu kesimpulan, kesucian tidak melulu tentang keperawanan, tapi juga emosi. tidak ada salahnya (malah baik) jika kita mempersiapkan diri untuk mencintai calon pasangan kita sepanjang hidup kita. Taruh dan sembunyikan  hati kita pada Dia, tidak begitu mudah melemparkan hati-emosi kita, biarkan Dia menjaganya. Biarkan Dia menulis cerita cintamu yang indah. serahkan penamu. Tuhan memberkati :D

"A woman's heart should be so hidden in Christ that a man should have to seek Him first to find her" -Max Lucado
"Ia [istri yang berkarakter saleh] berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya."


3 komentar:

  1. wow...jadi pengen punya bukunya deh Cyn. Sering dengar dan baca tulisan blogger lain yang bahas buku ini, tapi blom pernah baca langsung ^^

    BalasHapus
  2. hehe, iya kak, bagus bgt >.< jempol!

    compulsory reading bgt kak!

    BalasHapus